Archive for Maret, 2009

MANFAAT MENGIKUT RASULULAH

Maret 23, 2009

Dakwatuna.com Peduli Palestina

Palestina bukanlah tanah kosong tanpa bangsa (the land without nation), bukan pula milik Zionis Israel, sebuah bangsa yang tidak memiliki tanah (the nation without land). Palestina adalah bumi para nabi dimana mereka mengajarkan risalah tauhid kepada umatnya. Palestina – di mana masjidil Aqsha ada di sana – merupakan kiblat pertama umat Islam. Allah memuliakan Palestina dengan Al-Masjid Al-Aqsha. Di sana terdapat Al-Masjid Al-Aqsha, tempat para nabi dan rasul, dan tempat yang sangat diberkahi. Di Masjid Al-Aqsha ini pula Rasulullah saw. melakukan isra’ dan di sini beliau memimpin shalat bagi para nabi dan rasul –suatu simbol bahwa Rasulullah saw. adalah pemimpin mereka.

Masjid Al Aqsa

Masjid Al Aqsa

Palestina merupakan tanah waqaf umat Islam. Sedangkan Zionis Israel Yahudi tidak memiliki hak waris atas tanah Palestina. Zionis Israel Yahudi tidak memiliki akar sejarah sebagai penduduk asli Palestina.

Dalam sejarah juga disebutkan bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini, Mufti Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan Republik Indonesia di radio internasional. Sejak setelah saat itulah Indonesia memperoleh kemerdekaannya setelah mendapatkan dukungan dari negara-negara Timur Tengah, salah satunya Palestina.

Rakyat Palestina menderita akibat penjajahan Israel

Rakyat Palestina menderita akibat penjajahan Israel

Seluruh umat Islam, bahkan seluruh manusia, memiliki kewajiban untuk menjaga dan menyelamatkan Palestina dari berbagai macam penjajahan bangsa-bangsa yang terkutuk, utamanya bangsa Yahudi. Umat Islam juga memiliki kewajiban terhadap eksistensi Masjid Al Aqsa.

Ketika Zionis Israel melancarkan agresinya ke Palestina – khususnya ke wilayah Jalur Gaza – pada peralihan tahun 2008 – 2009, dunia semakin menyaksikan kekejaman mereka terhadap rakyat Palestina. Anak-anak, wanita, orang tua, dan warga sipil lainnya yang tidak berdosa menjadi korban pembantaian Israel. Hampir ribuan nyawa manusia melayang di sana, dan korban luka-luka berjatuhan mencapai lebih dari 3.000 orang. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia harus memiliki andil dalam menyelamatkan Palestina dari penjajahan dan agresi yang dilakukan oleh Zionis Israel. Oleh karena itu, mari kita salurkan bantuan baik moril maupun materiil untuk mereka.

Serangan Udara Israel atas Palestina

Serangan Udara Israel atas Palestina

Untuk bantuan materiil sebagai donasi Palestina, dapat disalurkan melalui berbagai lembaga berikut ini:

Rekening donasi bantuan untuk disalurkan ke Palestina :

1. KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina) – www.knrp.or.id

  • BCA # 7600325099 a.n. Komnas untuk Rakyat Palestina

2. ACT (Aksi Cepat Tanggap) – www.aksicepattanggap.com

  • BCA # 676 030 0860 a.n. Aksi Cepat Tanggap
  • BSM # 101 000 5557 a.n. Aksi Cepat Tanggap
  • Permata Syariah #0971 001224 a.n. Aksi Cepat Tanggap
  • Muamalat # 304 0023 015 a.n. Aksi Cepat Tanggap

3. BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) – www.bsmipusat.net

  • Bank Syariah Mandiri # 0010102555 a.n Bulan Sabit Merah Indonesia
  • Bank Syariah Mandiri # 0200038569 a.n Bulan Sabit Merah Indonesia

Bantuan kita sangat berarti untuk Rakyat Palestina.

Berita dan artikel terkait dengan Palestina silakan disimak melalui link ini.

DAKWATUNA.COM

MANFAAT MENGIKUT RASULULAH

Maret 23, 2009

Dakwatuna.com Peduli Palestina

Palestina bukanlah tanah kosong tanpa bangsa (the land without nation), bukan pula milik Zionis Israel, sebuah bangsa yang tidak memiliki tanah (the nation without land). Palestina adalah bumi para nabi dimana mereka mengajarkan risalah tauhid kepada umatnya. Palestina – di mana masjidil Aqsha ada di sana – merupakan kiblat pertama umat Islam. Allah memuliakan Palestina dengan Al-Masjid Al-Aqsha. Di sana terdapat Al-Masjid Al-Aqsha, tempat para nabi dan rasul, dan tempat yang sangat diberkahi. Di Masjid Al-Aqsha ini pula Rasulullah saw. melakukan isra’ dan di sini beliau memimpin shalat bagi para nabi dan rasul –suatu simbol bahwa Rasulullah saw. adalah pemimpin mereka.

Masjid Al Aqsa

Masjid Al Aqsa

Palestina merupakan tanah waqaf umat Islam. Sedangkan Zionis Israel Yahudi tidak memiliki hak waris atas tanah Palestina. Zionis Israel Yahudi tidak memiliki akar sejarah sebagai penduduk asli Palestina.

Dalam sejarah juga disebutkan bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini, Mufti Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan Republik Indonesia di radio internasional. Sejak setelah saat itulah Indonesia memperoleh kemerdekaannya setelah mendapatkan dukungan dari negara-negara Timur Tengah, salah satunya Palestina.

Rakyat Palestina menderita akibat penjajahan Israel

Rakyat Palestina menderita akibat penjajahan Israel

Seluruh umat Islam, bahkan seluruh manusia, memiliki kewajiban untuk menjaga dan menyelamatkan Palestina dari berbagai macam penjajahan bangsa-bangsa yang terkutuk, utamanya bangsa Yahudi. Umat Islam juga memiliki kewajiban terhadap eksistensi Masjid Al Aqsa.

Ketika Zionis Israel melancarkan agresinya ke Palestina – khususnya ke wilayah Jalur Gaza – pada peralihan tahun 2008 – 2009, dunia semakin menyaksikan kekejaman mereka terhadap rakyat Palestina. Anak-anak, wanita, orang tua, dan warga sipil lainnya yang tidak berdosa menjadi korban pembantaian Israel. Hampir ribuan nyawa manusia melayang di sana, dan korban luka-luka berjatuhan mencapai lebih dari 3.000 orang. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia harus memiliki andil dalam menyelamatkan Palestina dari penjajahan dan agresi yang dilakukan oleh Zionis Israel. Oleh karena itu, mari kita salurkan bantuan baik moril maupun materiil untuk mereka.

Serangan Udara Israel atas Palestina

Serangan Udara Israel atas Palestina

Untuk bantuan materiil sebagai donasi Palestina, dapat disalurkan melalui berbagai lembaga berikut ini:

Rekening donasi bantuan untuk disalurkan ke Palestina :

1. KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina) – www.knrp.or.id

  • BCA # 7600325099 a.n. Komnas untuk Rakyat Palestina

2. ACT (Aksi Cepat Tanggap) – www.aksicepattanggap.com

  • BCA # 676 030 0860 a.n. Aksi Cepat Tanggap
  • BSM # 101 000 5557 a.n. Aksi Cepat Tanggap
  • Permata Syariah #0971 001224 a.n. Aksi Cepat Tanggap
  • Muamalat # 304 0023 015 a.n. Aksi Cepat Tanggap

3. BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) – www.bsmipusat.net

  • Bank Syariah Mandiri # 0010102555 a.n Bulan Sabit Merah Indonesia
  • Bank Syariah Mandiri # 0200038569 a.n Bulan Sabit Merah Indonesia

Bantuan kita sangat berarti untuk Rakyat Palestina.

Berita dan artikel terkait dengan Palestina silakan disimak melalui link ini.

DAKWATUNA.COM

YANG BERGUGURAN DI JALAN DAKWAH

Maret 23, 2009

<!–
google_ad_client = “pub-3443918307802676”;
google_ad_output = “js”;
google_feedback = “on”;
google_ad_type = “text,flash,html”;
google_max_num_ads = “2”;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
google_ad_format = “468x60_as”;
google_image_size = “468×60″;
google_ad_channel =”8832819222+9378541030+7401333398+0501430540+7814133392”;
var color_bg = ‘1B1B1B’;
var color_text = ‘DDDDDD’;
var color_link = ‘6DCFF6’;
var color_border = ‘0A0A0A’;
var color_url = ‘6DCFF6’;

google_analytics_domain_name = “none”;
//–> window.google_render_ad();

Ads by Google

Jodoh Kristen Indonesia
Situs kencan Kristen pertama di
Indonesia. Bergabunglah sekarang!

www.jodohkristen.net
ThyssenKrupp Sägenstahl
The experts in saw steel
Flat steel for circular saws/knifes

www.tks-saegenstahlcenter.de

Pada perang Tabuk, ada beberapa sahabat yang tidak berangkat berperang. Salah satu di antara mereka adalah Ka’ab bin Malik. Marilah kita dengarkan cerita Ka’ab yang menunjukkan kejujuran imannya, usai turunnya pengampunan Allah atas dosanya.

“Aku sama sekali tidak pernah absent mengikuti semua peperangan bersama Rasululah saw, kecuali dalam perang Tabuk. Perihal ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu adalah karena kelalaian diriku terhadap perhiasan dunia, ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu aku memikinya.

Sungguh, tidak pernah Rasullah saw. merencanakan suatu peperangan melainkan beliau merahasiakan hal itu, kecuali pada perang Tabuk ini. Peperangan ini, Rasulullah saw. lakukan dalam kondisi panas terik matahari gurun yang sangat menyengat, menempuh perjalanan nan teramat jauh, serta menghadapi lawan yang benar-benar besar dan tangguh. Jadi, rencananya jelas sekali bagi kaum muslimin untuk mempersiapkan diri masing-masing menuju suatu perjalanan dan peperangan yang jelas pula.

Rasulullah saw. mempersiapkan pasukan yang akan berangkat. Aku pun mempersiapkan diri untuk ikut serta, tiba-tiba timbul pikiran ingin membatalkannya, lalu aku berkata dalam hati, “Aku bisa melakukannya kalau aku mau!”

Akhirnya, aku terbawa oleh pikiranku yang ragu-ragu, hingga para pasukan kaum muslimin mulai berangkat. Pada saat pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah, maka timbul pikiranku untuk mengejar mereka, toh mereka belum jauh. Namun, aku tidak melakukannya, kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku.

Tampaknya aku ditakdirkan untuk tidak ikut, Akan tetapi sungguh aku merasakan penderitaan batin sejak Rasulullah saw. meninggalkan Madinah. Bila aku keluar rumah, maka di jalan-jalan aku merasakan keterkucilan diri sebab aku tidak melihat orang kecuali orang-orang yang diragukan keislamannya. Merekalah orang-orang yang sudah mendapatkan rukhshah atau ijin Allah Ta’ala untuk uzur atau kalau tidak demikian maka mereka adalah orang-orang munafik. Padahal, aku merasakan bahwa diriku tidak termasuk keduanya.

Konon, Rasulullah saw. tidak menyebut-nyebut namaku sampai ke Tabuk. Setibanya di sana, ketika beiau sedang duduk-duduk bersama sahabatnya, beliau bertanya, “Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?”

Seorang dari Bani Salamah menjawab, “Ya Rasulullah, ia ujub pada keadaan dan dirinya!”
Mu’az bin Jabal menyangkal, “Buruk benar ucapanmu itu! Demi Allah, ya Rasulullah, aku tidak pernah mengerti melainkan kebaikannya saja!”Rasulullahsaw. hanya terdiam saja.

Beberapa waktu setelah berlalu, aku mendengar Rasulllah saw. kembali dari kancah jihad Tabuk. Ada dalam pikiranku berbagai desakan dan dorongan untuk membawa alasan palsu ke hadapan Rasulullah saw., bagaimana caranya supaya tidak terkena marahnya? Aku minta pandapat dari beberapa orang keluargaku yang terkenal berpikiran baik. Akan tetapi, ketika aku mendengar Nabi saw., segera tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran jahat itu. Aku merasa yakin bahwa aku tidak akan pernah menyelamatkan diri dengan kebatilan itu sama sekali. Maka, aku bertekad bulat akan menemui Rasulullah saw. dan mengatakan dengan sebenarnya.

Pagi-pagi, Rasulullah saw. memasuki kota Madinah. Sudah menjadi kebiasaan, kalau beliau kembali dari suatu perjalanan, pertama masuk ke masjid dan shalat dua rakaat. Demikian pula usai dari Tabuk, selesai shalat beliau kemudian duduk melayani tamu-tamunya. Lantas, berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut perang Tabuk dengan membawa alasan masing-masing diselingi sumpah palsu untuk menguatkan alasan mereka. Jumlah mereka kira-kira delapan puluhan orang. Rasulullah saw. menerima alasan lahir mereka dan mereka pun memperbaharui baiat setia mereka. Beliau memohonkan ampunan bagi mereka dan menyerahkan soal batinnya kepada Allah. Tibalah giliranku, aku datang mengucapkan salam kepada beliau. Beliau membalas dengan senyuman pula, namun jelas terlihat bahwa senyuman beliau adalah senyuman yang memendam rasa marah. Beliau kemudian berkata, “Kemarilah!”

Aku pun menghampirinya, lalu duduk di hadapannya. Beliau tiba-tiba bertanya, “Wahai Ka’ab, mengapa dirimu tidak ikut? Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?”

Aku menjawab, “Ya Rasulullah! Demi Allah. Kalau duduk di hadapan penduduk bumi yang lain, tentulah aku akan berhasil keluar dari amarah mereka dengan berbagai alasan dan dalil lainnya. Namun, demi Allah. Aku sadar kalau aku berbicara bohong kepadamu dan engkau pun menerima alasan kebohonganku, aku khawatir Allah akan membenciku. Kalau kini aku bicara jujur, kemudian karena itu engkau marah kepadaku, sesungguhnya aku berharap Allah akan mengampuni kealpaanku. Ya Rasululah saw., demi Allah, aku tidak punya uzur. Demi Allah, keadaan ekonomiku tidak pernah stabil dibanding tatkala aku mengikutimu itu!”

Rasulullah berkata, “Kalau begitu, tidak salah lagi. Kini, pergilah kau sehingga Allah menurunkan keputusan-Nya kepadamu!”

Aku pun pergi diikuti oleh orang-orang Bani Salamah. Mereka berkata kepada, “Demi Allah, Kami belum pernah melihatmu melakukan dosa sebelum ini. Kau tampaknya tidak mampu membuat-buat alasan seperti yang lain, padahal dosamu itu sudah terhapus oleh permohonan ampun Rasulullah!”

Mereka terus saja menyalahkan tindakanku itu hingga ingin rasanya aku kembali menghadap Rasullah saw. untuk membawa alasan palsu, sebagaimana orang lain melakukannya.

Aku bertanya kapada mereka, “Apakah ada orang yang senasib denganku?”

Mereka menjawab, “Ya! Ada dua orang yang jawabannya sama dengan apa yang kau perbuat. Sekarang mereka berdua juga mendapat keputusan yang sama dari Rasulullah sebagaimana keadaanmu sekarang!”

Aku bertanya lagi, “Siapakah mereka itu?”

Mereka menjawab, “Murarah bin Rabi’ah Al-Amiri dan Hilal bin Umayah Al-Waqifi.”

Mereka menyebutkan dua nama orang shalih yang pernah ikut dalam perang Badr dan yang patut diteladani. Begitu mereka menyebutkan dua nama orang itu, aku bergegas pergi menemui mereka.

Tak lama setelah itu, aku mendengar Rasululah melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga, di antara delapan puluhan orang yang tidak ikut dalam perang tersebut.

Kami mengucilkan diri dari masyarakat umum. Sikap mereka sudah lain kapada kami sehingga rasanya aku hidup di suatu negeri yang lain dari negeri yang aku kenal sebelumnya. Kedua rekanku itu mendekam di rumah masing-masing menangisi nasib dirinya, tetapi aku yang paling kuat dan tabah di antara mereka. Aku keluar untuk shalat jamaah dan kaluar masuk pasar meski tidak seorang pun yang mau berbicara denganku atau menanggapi bicaraku. Aku juga datang ke majilis Rasullah saw. sesudah beliau shalat. Aku mengucapkan salam kepada beliau, sembari hati kecilku bertanya-tanya memperhatikan bibir beliau, “Apakah beliau menggerakkan bibirnya menjawab salamku atau tidak?”

Aku juga shalat dekat sekali dengan beliau. Aku mencuri pandang melihat pandangan beliau. Kalau aku bangkit mau shalat, ia melihat kepadaku. Namun, apabila aku melihat kepadanya, ia palingkan mukanya cepat-cepat. Sikap dingin masyarakat kepadaku terasa lama sekali.
Pada suatu hari, aku mengetuk pintu pagar Abu Qaradah, saudara misanku dan ia adalah saudara yang paling aku cintai. Aku mengucapkan salam kepadanya, tetapi demi Allah, ia tidak menjawab salamku.

Aku menegurya, “Abu Qaradah! Aku mohon dengan nama Allah, apakah kau tau bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?”

Ia diam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulanginya sekali lagi, tapi ia hanya menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!”

Air mataku tidak tertahankan lagi. Kemudian aku kembali dengan penuh rasa kecewa.

Pada suatu hari, aku berjalan-jalan ke pasar kota Madinah. Tiba-tiba datanglah orang awam dari negeri Syam. Orang itu biasanya mengantarkan dagangan pangan ke kota Madinah. Ia bertanya, “Siapakah yang mau menolongku menemui Ka’ab bin Malik?”

Orang-orang di pasar itu menunjuk kepdaku, lalu orang itu datang kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat dari raja Ghassan. Setelah kubuka, isinya sebagai berikut, “… Selain dari itu, bahwa sahabatmu sudah bersikap dingin terhadapmu. Allah tidak menjadikan kau hidup terhina dan sirna. Maka, ikutlah dengan kami di Ghassan, kami akan menghiburmu!”

Hatiku berkata ketika membaca surat itu, “Ini juga salah satu ujian!” Lalu aku memasukkan surat itu ke dalam tungku dan membakarnya.

Pada hari yang ke-40 dari pengasinganku di kampung halaman sendiri, ketika aku menanti-nantikan turunnya wahyu tiba-tiba datanglah kepadaku seorang pesuruh Rasulullah saw. menyampaikan pesannya, “Rasulullah memerintahkan kepadamu supaya kamu menjauhi istrimu!”

Aku semakin sedih, namun aku juga semakin pasrah kepada Allah, hingga terlontar pertanyaanku kepadanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang akan kulakukan?”

Ia menjelaskan, “Tidak. Akan tetapi, kamu harus menjauhkan dirimu darinya dan menjauhkannya dari dirimu!”

Kiranya Rasulullah juga sudah mengirimkan pesannya kepada dua sahabatku yang bernasib sama. Aku langsung memerintahkan kepada istriku, “Pergilah kau kepada keluargamu sampai Allah memutuskan hukumnya kepada kita!”

Istri Hilal bin Umaiyah datang menghadap Rasulullah saw. lalu ia bertanya, “Ya Rasulullah, sebenarnya Hilal bin Umaiyah seorang yang sudah sangat tua, lagi pula ia tidak memiliki seorang pembantu. Apakah ada keberatan kalau aku melayaninya di rumah?”

Rasulullah saw. menjawab, “Tidak! Akan tetapi ia tidak boleh mendekatimu!”

Istri Hilal menjelaskan, “Ya Rasulullah! Ia sudah tidak bersemangat pada yang itu lagi. Demi Allah, yang dilakukannya hanya menangisi dosanya sejak saat itu hingga kini!”

Ada seorang familiku yang juga mengusulkan, “Coba minta izin kepada Rasulullah supaya istrimu melayai dirimu seperti halnya istri Hilal bin Umayah!”

Aku menjawab tegas, “Tidak Aku tidak akan minta izin kepada Rasulullah saw. tentang istriku. Apa katanya kelak, sedangkan aku masih muda?”

Akhirnya, hari-hari selanjutnya aku hidup seorang diri di rumah. Lengkaplah bilangan malam sejak orang-orang dicegah berbicara denganku menjadi 50 hari 50 malam. Pada waktu sedang shalat subuh di suatu pagi dari malam yang ke-50 ketika aku sedang duduk berdzkir minta ampun dan mohon dilepaskan dari kesempitan hidup dalam alam yang luas ini, tiba-tiba aku mendengar teriakan orang-orang memanggil namaku. ‘Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah! Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!”

Mendengar berita itu aku langsung sujud memanjatkan syukur kepada Allah. Aku yakin pembebasan hukuman telah dikeluarkan. Aku yakin, Allah telah menurunkan ampunan-Nya.

Rasulullah menyampaikan berita itu kepada shahabat-shahabatnya seusai shalat shubuh bahwa Allah telah mengampuni aku dan dua orang shahabatku. Berlomba-lombalah orang mendatangi kami, hendak menceritakan berita germbira itu. Ada yang datang dengan berkuda, ada pula yang datang dengan berlari dari jauh mendahului yang berkuda. Sesudah keduanya sampai di hadapanku, aku berikan kepada dua orang itu kedua pakaian yang aku miliki. Demi Allah, saat itu aku tidak memiliki pakaian kecuali yang dua itu.

Aku mencari pinjaman pakaian untuk menghadap Rasullah. Ternyata aku telah disambut banyak orang dan dengan serta merta mereka mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah, tidak seorang pun dari muhajirin yang berdiri dan memberi ucapan selamat selain Thal’ah.

Sikap Thalhah itu tak mungkin aku lupakan. Sesudah aku mengucapkan salam kepada Rasulullah, mukanya tampak cerah dan gembira, katanya kemudian, “Bergembiralah kau atas hari ini! Inilah hari yang paling baik bagimu sejak kau dilahirkan oleh ibumu!”

“Apakah dari Allah ataukah dari engkau ya Rasulullah?” tanyaku sabar.

“Bukan dariku! Pengampunan itu datangnya dari Allah!” jawab Rasul saw.

Demi Allah, aku belum pernah merasakan besarnya nikmat Allah kepadaku sesudah Dia memberi hidayah Islam kepadaku, lebih besar bagi jiwaku daripada sikap jujurku kepada Rasulullah saw.”

Ka’ab lalu membaca ayat pengampunannya itu dengan penuh haru dan syahdu, sementara air matanya berderai membasahi kedua pipinya.

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian, Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah:118)

dari : http:embuntarbiah

mengingat detik-detik terakhir rasululah

Maret 23, 2009

Mengingat detik-detik terakhir Rasululah

– Perjalanan dakwah kita masih panjang. Mari mengingat sedikit sirah…untuk melunakkan hati kita yang mungkin telah menjadi keras dengan kemaksiatan yang telah kita lakukan (nau’dzubillah). Mengingat kembali betapa Rasulullah yang mulia sangat mencintai kita. Sehingga tak layak bagi kita yang tingkat ketaqwaannya jauh dari Rasulullah untuk memikirkan cinta selain pada-Nya dan selain pada Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam. Mari kita mulai kembali perjalanan dakwah ini dengan penuh kerinduan pada Rasulullah dan kebersihan hati serta ketakutan pada pengawasan Allah Yang Maha Menyaksikan –

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah ayahku, orang yang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya.

Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis-shalaati, wa maa malakat aimaanukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di
luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii!” – “Umatku, umatku, umatku”

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?

“Allaahumma Shalli wa sallim ‘alaa sayyidinaa Muhammadin Al faatihi lima ughliqa wal khaatimi limaa sabaqa wanaashiril haqqi bil haqqi walhaadii ilaa shiraathal mustaqiimi wa’alaa aalihi wa shahbihi haqqa qadrihi wa miqdaarihil azhiimi…”

“Ya Allah limpahkanlah rahmat dan keselamatan atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW yg membuka apa yang tertutup dan menutup segala yang dahulu, penolong yang hak dengan yg hak dan yg menunjukan kejalan yg benar, dan kepada para keluarga dan sahabatnya hingga pangkat dan kekuasaannya yg besar,amin”

Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangimu di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu di akhirat

kutilis kembali taujih ini untuk MUQIM 2 JMMI

MENGEMBALIKAN RUH PENDIDIKAN KESETARAAN

Maret 23, 2009

Artikel

Rabu, 28 Januari 2009 22:02:56

MENGEMBALIKAN RUH PENDIDIKAN KESETARAAN

Kategori: Umum (345 kali dibaca)

“Buat apa sekolah Paket C cari krj tetap susah mah gmn dong msh bnyk pengangguran              ( 0227623xxx).”

KALIMAT di atas merupakan SMS dari salah seorang pembaca rubrik “Sora Balarea”  HU Pikiran Rakyat, Bandung  (11/8/2008). Bagi  saya yang sampai saat ini menjadi tutor Paket B dan     Paket C di UPTD Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Garut, SMS tersebut menjadi catatan tersendiri yang selalu mengusik pikiran saya.

Menurut UU No. 20 tahun 2003, tentang Sisdiknas, dinyatakan bahwa pendidikan nasional diselenggarakan melalui tiga jalur, yaitu: pendidikan formal, nonformal, dan informal. Melalui jalur pendidikan nonformal, pemerintah melalui Dirjen Pendidikan Luar Sekolah (PLS), yang kini berubah nama menjadi Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) menyelenggarakan berbagai program yang salah satu diantaranya adalah Pendidikan Kesetaraan, yang terdiri atas (1) Program Paket A setara SD, (2) Program Paket B setara SMP,                             dan (3) Program Paket C setara SMA.

Program pendidikan kesetaraan memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan pendidikan formal (SD, SMP, dan SMA), selain waktu dan tempatnya yang fleksibel, program pendidikan kesetaraan memiliki sasaran yang berbeda dengan pendidikan formal. Secara umum, sasaran dari program-program pendidikan nonformal adalah mereka yang tergolong kurang beruntung, baik dari aspek ekonomis, geografis, dan sosial budaya.

Dalam tatanan idealnya, pendidikan kesetaraan disamping harus memberikan kemampuan pengetahuan secara akademis sesuai dengan jenjangnya, secara terintegrasi harus juga memberikan berbagai kecakapan hidup, yang dapat dimanfaatkan para lulusannya sebagai bekal mencari nafkah atau melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Realitanya, tatanan ideal tersebut belum sepenuhnya terwujud. Para penyelenggara program pendidikan kesetaraan baik PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) maupun Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) masih banyak yang belum mampu melaksanakannya secara terintegrasi. Secara akademis, proses pembelajarannya masih terfokus kepada bagaimana warga belajar dapat lulus dalam UNPK (Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan). Ironisnya, proses pembelajaran ini pun terkadang tak berjalan mulus. Banyak faktor yang mempengaruhinya, misalnya terbatasnya ketersediaan modul, terbatasnya tenaga tutor yang kapabel, dan keterbatasan waktu belajar.

Standar Kompetensi Lulusan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 menyebutkan, lulusan pendidikan kesetaraan setara dengan lulusan pendidikan formal tetapi memiliki ciri khas yaitu: (1) Paket A memiliki keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan  sehari-hari, (2) Paket B memiliki keterampilan untuk dapat bekerja, (3) Paket C memiliki keterampilan untuk dapat berwirausaha. Inilah ruh sebenarnya dari program pendidikan kesetaraan.

Penyelenggara program pendidikan kesetaraan harus mengerti betul sasaran dan tujuan program yang sebenarnya. Diakui atau pun tidak, sangat sedikit para penyelenggara program pendidikan kesetaraan yang memahami betul hakikat program pendidikan kesetaraan.

Pada saat ini baik PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) maupun Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) yang notabene merupakan “laboratoriumnya” program-program pendidikan nonformal yang berada di jajaran Departemen Pendidikan Nasional, dalam menyelenggarakan program pendidikan kesetaraan, tak jauh berbeda dengan pendidikan formal. Baik metode maupun bahan ajarnya merupakan copy paste dari pendidikan formal. Karenanya tak berlebihan jika dikatakan, selain ijazah, warga belajar yang beragam latar belakangnya, waktu dan tempat belajar yang fleksibel, tidak ada lagi nilai lebih dan ciri khas yang dimiliki lulusan program pendidikan kesetaraan.

Pendidikan kesetaraan Paket B maupun Paket C hanya melahirkan lulusannya yang samogol (tidak matang, tidak utuh). Secara akademis memiliki kualitas yang lebih rendah dari pendidikan formal, miskin dengan pendidikan keterampilan yang dapat dijadikan bekal untuk dapat hidup mandiri. Jadi apa yang bisa diharapkan dari lulusan program pendidikan kesetaraan? Tak salah jika SMS seperti diawal tulisan ini muncul, ditambah dengan sikap warga belajar dan masyarakat yang ingin serba instant, berorientasi kepada mencari pekerjaan daripada mandiri menciptakan lapangan kerja.

Para penyelenggara pendidikan kesetaraan seharusnya memahami, para lulusan pendidikan kesetaraan jarang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Setelah menyelesaikan program pendidikan kesetaraan, rata-rata mereka menjadi pencari kerja. Suatu prestasi yang sangat tinggi dan akan dilirik semua orang jika pendidikan kesetaraan mampu melahirkan lulusan yang utuh, unggul secara akademis dan memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk hidup mandiri dan memiliki bekal untuk berwirausaha.

Pada saat ini dan pada masa yang akan datang, dunia pendidikan ditantang untuk dapat melahirkan lulusannya yang dapat hidup mandiri, mampu berwirausaha, berwiraswasta, mampu menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri dan orang lain. Ayi Olim (1998), ketua jurusan Pendidikan Luar Sekolah UPI Bandung, dalam disertasinya mengatakan, “Dampak dari pendidikan pada akhirnya diharapkan mampu menghasilkan kemampuan wiraswasta. Untuk mampu menghasilkan kemampuan wiraswasta tersebut maka pendidikan yang dilaksanakan harus menekankan kepada pengembangan sumber daya manusia, pengembangan aktualisasi diri dan pemanfaatan potensi.”

Saya bersyukur, kini program pendidikan kesetaraan, baik Paket A, Paket B, maupun  Paket C sudah mulai dikenal masyarakat. Namun demikian, penyelenggaraan pendidikan kesetaraan harus memiliki nilai lebih, memiliki nilai pembeda dengan pendidikan formal.

Kelompok Belajar Usaha (KBU) yang merupakan salah satu nilai lebih dari pendidikan kesetaraan belum sepenuhnya dimiliki oleh setiap penyelenggara program pendidikan kesetaraan. Padahal, KBU merupakan ajang pelatihan bagi mereka untuk menjalani kehidupan sesudah menyelesaikan jenjang pendidikan kesetaraan.

Kini para penyelenggara pendidikan kesetaraan mendapat tantangan berat, yakni harus memberdayakan warga belajar atau peserta didiknya. Selain itu harus berupaya mengembalikan ruh pendidikan kesetaraan yang selama ini hilang, yakni penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional.

Dalam upaya mengembalikan ruh pendidikan kesetaraan dan memberdayakan warga belajar, para penyelenggara pendidikan kesetaraan dan tutor harus mampu menggali potensi dan bakat yang dimiliki peserta didik dan memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sekitar untuk pengembangan dan pemantapan proses pembelajaran.

Djudju Sudjana (2000), guru besar Pendidikan Luar Sekolah UPI Bandung mengatakan, terdapat empat sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan dan pemantapan proses pembelajaran , yakni (1) sumber daya manusia, (2) sumber daya alam, (3) sumber daya budaya, dan (4) sumber daya teknologi.

Menyelenggarakan pendidikan kesetaraan merupakan tugas mulia dalam upaya ikut mencerdaskan bangsa. Agar hasilnya maksimal, penyelenggaraannya tak boleh asal-asalan, tapi harus benar-benar profesional. Tugas semua kalangan yang berkompeten dengan program pendidikan kesetaraan untuk membenahi dan menyempurnakan penyelenggaraan pendidikan kesetaraan di lapangan.

Jika pendidikan kesetaraan dilaksanakan secara profesional, memiliki nilai lebih dibandingkan dengan pendidikan formal, lulusannya dapat hidup mandiri, apalagi mampu menciptakan lapangan kerja, insya Allah lulusan pendidikan kesetaraan takkan lagi dipandang sebelah mata. ***

Penulis adalah Penulis Lepas, Tutor Pendidikan Kesetaraan Paket B dan Paket C UPTD Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Garut, mahasiswa semester akhir (S.2) Program Studi Pendidikan Luar Sekolah, Sekolah Pasca Sarjana UPI Bandung.

(Ade Sudaryat)

Dikutip dari www.jugaguru.com

MUSIK KLASIK DAN AL-QUR’AN

Maret 23, 2009

Oleh ADE SUDARYAT

SUDAH lama, para pakar ilmu psikologi perkembangan meneliti dan berkeyakinan, mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi perkembangan otak dan kesehatan mental.

Stephanie Merrit, Direktur Pusat Musik dan Pencitraan California yang sebelumnya menjadi guru pernah mengalami hal unik berkenaan dengan perilaku anak didiknya. Pada suatu pagi, ketika pelajaran akan dimulai, ia melihat murid-muridnya loyo dan tak bersemangat serta daya tangkapnya rendah. Kemudian ia bertanya kepada mereka tentang makanan yang disantap sebelum berangkat ke sekolah. Jawabannya, semua makanannya bergizi tinggi. Namun ketika mereka ditanya tentang musik yang didengarkan sebelum berangkat, sebagian besar menjawabnya musik keras seperti heavy metal. Sejak itu, ia menganjurkan murid-muridnya untuk mendengarkan musik klasik. Hasilnya mengejutkan, semangat dan hasil belajar mereka meningkat.

Penelitian Dr. Alfred Tomatis, dokter dari Prancis, menyebutkan, musik klasik memberikan energi kepada otak dan membuatnya menjadi lebih santai. Eksperimen dan penelitian lainnya dilakukan Dorothy Retallack, seorang musisi profesional, tahun 1970 di Temple Buell College, Colorado terhadap tanaman. Hasilnya, tanaman labu yang distelkan musik klasik, tumbuh dengan baik ke arah radio dan batang-batangnya mulai melingkari radio. Sedangkan pohon labu yang diletakkan di ruangan musik rock tumbuh menjauhi radio, seolah-olah dia berusaha menjauhi tembok.

Kalaulah musik klasik yang notabene, hasil karya manusia banyak pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa dan otak kita, lalu bagaimana dengan mendengarkan bacaan Alquran, adakah pengaruhnya seperti halnya kita mendengarkan musik klasik? Jika tilawah Alquran diperdengarkan kepada janin dalam kandungan, adakah pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa dan otaknya, seperti pengaruh yang ditimbulkan musik klasik?

Walaupun tidak dibarengi dengan data ilmiah, Syaikh Ibrahim bin Ismail dalam karyanya Ta’lim al Muta’alim halaman 41, sebuah kitab yang mengupas tata krama mencari ilmu berkata, “Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang kuat ingatan atau hafalannya. Di antaranya, menyedikitkan makan, membiasakan melaksanakan ibadah salat malam, dan membaca Alquran sambil melihat kepada mushaf”. Selanjutnya ia berkata, “Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Alquran”.

Dengan pernyataan tersebut setidaknya kita dapat mengungkap, Alquran memiliki pengaruh yang kuat terhadap daya ingat seseorang atau terhadap tingkat kecerdasan seseorang. Juga menimbulkan pengaruh terhadap kesehatan jiwa seseorang.

Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.

Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.

Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Alquran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.

Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Alquran.

Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Alquran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Alquran. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Alquran dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Alquran.

Alquran memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Alquran dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.

Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita memiliki Alquran. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Alquran lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Alquran memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).

Diakui oleh para pakar saat ini, kesuksesan seseorang pada saat ini tidak cukup hanya diukur oleh kemampuan IQ dan EQ-nya. Tapi yang terpenting adalah tingkat kecerdasan spiritualnya (SQ). Semakin tinggi SQ-nya, semakin sukseslah ia.

Mahabenar Allah yang telah berfirman, “Dan apabila dibacakan Alquran, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. 7: 204).

Atau juga, “Dan Kami telah menurunkan dari Alquran, suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (Q.S. 17: 82).

Atau, “Ingatlah, hanya dengan berdzikir kepada Allah-lah hati menjadi tentram” (Q.S. 13: 28).***

Penulis, tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut.

Dikutip dari blog indonesia

Hello world!

Maret 18, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!