MENGEMBALIKAN RUH PENDIDIKAN KESETARAAN

Artikel

Rabu, 28 Januari 2009 22:02:56

MENGEMBALIKAN RUH PENDIDIKAN KESETARAAN

Kategori: Umum (345 kali dibaca)

“Buat apa sekolah Paket C cari krj tetap susah mah gmn dong msh bnyk pengangguran              ( 0227623xxx).”

KALIMAT di atas merupakan SMS dari salah seorang pembaca rubrik “Sora Balarea”  HU Pikiran Rakyat, Bandung  (11/8/2008). Bagi  saya yang sampai saat ini menjadi tutor Paket B dan     Paket C di UPTD Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Garut, SMS tersebut menjadi catatan tersendiri yang selalu mengusik pikiran saya.

Menurut UU No. 20 tahun 2003, tentang Sisdiknas, dinyatakan bahwa pendidikan nasional diselenggarakan melalui tiga jalur, yaitu: pendidikan formal, nonformal, dan informal. Melalui jalur pendidikan nonformal, pemerintah melalui Dirjen Pendidikan Luar Sekolah (PLS), yang kini berubah nama menjadi Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) menyelenggarakan berbagai program yang salah satu diantaranya adalah Pendidikan Kesetaraan, yang terdiri atas (1) Program Paket A setara SD, (2) Program Paket B setara SMP,                             dan (3) Program Paket C setara SMA.

Program pendidikan kesetaraan memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan pendidikan formal (SD, SMP, dan SMA), selain waktu dan tempatnya yang fleksibel, program pendidikan kesetaraan memiliki sasaran yang berbeda dengan pendidikan formal. Secara umum, sasaran dari program-program pendidikan nonformal adalah mereka yang tergolong kurang beruntung, baik dari aspek ekonomis, geografis, dan sosial budaya.

Dalam tatanan idealnya, pendidikan kesetaraan disamping harus memberikan kemampuan pengetahuan secara akademis sesuai dengan jenjangnya, secara terintegrasi harus juga memberikan berbagai kecakapan hidup, yang dapat dimanfaatkan para lulusannya sebagai bekal mencari nafkah atau melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Realitanya, tatanan ideal tersebut belum sepenuhnya terwujud. Para penyelenggara program pendidikan kesetaraan baik PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) maupun Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) masih banyak yang belum mampu melaksanakannya secara terintegrasi. Secara akademis, proses pembelajarannya masih terfokus kepada bagaimana warga belajar dapat lulus dalam UNPK (Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan). Ironisnya, proses pembelajaran ini pun terkadang tak berjalan mulus. Banyak faktor yang mempengaruhinya, misalnya terbatasnya ketersediaan modul, terbatasnya tenaga tutor yang kapabel, dan keterbatasan waktu belajar.

Standar Kompetensi Lulusan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 menyebutkan, lulusan pendidikan kesetaraan setara dengan lulusan pendidikan formal tetapi memiliki ciri khas yaitu: (1) Paket A memiliki keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan  sehari-hari, (2) Paket B memiliki keterampilan untuk dapat bekerja, (3) Paket C memiliki keterampilan untuk dapat berwirausaha. Inilah ruh sebenarnya dari program pendidikan kesetaraan.

Penyelenggara program pendidikan kesetaraan harus mengerti betul sasaran dan tujuan program yang sebenarnya. Diakui atau pun tidak, sangat sedikit para penyelenggara program pendidikan kesetaraan yang memahami betul hakikat program pendidikan kesetaraan.

Pada saat ini baik PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) maupun Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) yang notabene merupakan “laboratoriumnya” program-program pendidikan nonformal yang berada di jajaran Departemen Pendidikan Nasional, dalam menyelenggarakan program pendidikan kesetaraan, tak jauh berbeda dengan pendidikan formal. Baik metode maupun bahan ajarnya merupakan copy paste dari pendidikan formal. Karenanya tak berlebihan jika dikatakan, selain ijazah, warga belajar yang beragam latar belakangnya, waktu dan tempat belajar yang fleksibel, tidak ada lagi nilai lebih dan ciri khas yang dimiliki lulusan program pendidikan kesetaraan.

Pendidikan kesetaraan Paket B maupun Paket C hanya melahirkan lulusannya yang samogol (tidak matang, tidak utuh). Secara akademis memiliki kualitas yang lebih rendah dari pendidikan formal, miskin dengan pendidikan keterampilan yang dapat dijadikan bekal untuk dapat hidup mandiri. Jadi apa yang bisa diharapkan dari lulusan program pendidikan kesetaraan? Tak salah jika SMS seperti diawal tulisan ini muncul, ditambah dengan sikap warga belajar dan masyarakat yang ingin serba instant, berorientasi kepada mencari pekerjaan daripada mandiri menciptakan lapangan kerja.

Para penyelenggara pendidikan kesetaraan seharusnya memahami, para lulusan pendidikan kesetaraan jarang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Setelah menyelesaikan program pendidikan kesetaraan, rata-rata mereka menjadi pencari kerja. Suatu prestasi yang sangat tinggi dan akan dilirik semua orang jika pendidikan kesetaraan mampu melahirkan lulusan yang utuh, unggul secara akademis dan memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk hidup mandiri dan memiliki bekal untuk berwirausaha.

Pada saat ini dan pada masa yang akan datang, dunia pendidikan ditantang untuk dapat melahirkan lulusannya yang dapat hidup mandiri, mampu berwirausaha, berwiraswasta, mampu menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri dan orang lain. Ayi Olim (1998), ketua jurusan Pendidikan Luar Sekolah UPI Bandung, dalam disertasinya mengatakan, “Dampak dari pendidikan pada akhirnya diharapkan mampu menghasilkan kemampuan wiraswasta. Untuk mampu menghasilkan kemampuan wiraswasta tersebut maka pendidikan yang dilaksanakan harus menekankan kepada pengembangan sumber daya manusia, pengembangan aktualisasi diri dan pemanfaatan potensi.”

Saya bersyukur, kini program pendidikan kesetaraan, baik Paket A, Paket B, maupun  Paket C sudah mulai dikenal masyarakat. Namun demikian, penyelenggaraan pendidikan kesetaraan harus memiliki nilai lebih, memiliki nilai pembeda dengan pendidikan formal.

Kelompok Belajar Usaha (KBU) yang merupakan salah satu nilai lebih dari pendidikan kesetaraan belum sepenuhnya dimiliki oleh setiap penyelenggara program pendidikan kesetaraan. Padahal, KBU merupakan ajang pelatihan bagi mereka untuk menjalani kehidupan sesudah menyelesaikan jenjang pendidikan kesetaraan.

Kini para penyelenggara pendidikan kesetaraan mendapat tantangan berat, yakni harus memberdayakan warga belajar atau peserta didiknya. Selain itu harus berupaya mengembalikan ruh pendidikan kesetaraan yang selama ini hilang, yakni penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional.

Dalam upaya mengembalikan ruh pendidikan kesetaraan dan memberdayakan warga belajar, para penyelenggara pendidikan kesetaraan dan tutor harus mampu menggali potensi dan bakat yang dimiliki peserta didik dan memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sekitar untuk pengembangan dan pemantapan proses pembelajaran.

Djudju Sudjana (2000), guru besar Pendidikan Luar Sekolah UPI Bandung mengatakan, terdapat empat sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan dan pemantapan proses pembelajaran , yakni (1) sumber daya manusia, (2) sumber daya alam, (3) sumber daya budaya, dan (4) sumber daya teknologi.

Menyelenggarakan pendidikan kesetaraan merupakan tugas mulia dalam upaya ikut mencerdaskan bangsa. Agar hasilnya maksimal, penyelenggaraannya tak boleh asal-asalan, tapi harus benar-benar profesional. Tugas semua kalangan yang berkompeten dengan program pendidikan kesetaraan untuk membenahi dan menyempurnakan penyelenggaraan pendidikan kesetaraan di lapangan.

Jika pendidikan kesetaraan dilaksanakan secara profesional, memiliki nilai lebih dibandingkan dengan pendidikan formal, lulusannya dapat hidup mandiri, apalagi mampu menciptakan lapangan kerja, insya Allah lulusan pendidikan kesetaraan takkan lagi dipandang sebelah mata. ***

Penulis adalah Penulis Lepas, Tutor Pendidikan Kesetaraan Paket B dan Paket C UPTD Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Garut, mahasiswa semester akhir (S.2) Program Studi Pendidikan Luar Sekolah, Sekolah Pasca Sarjana UPI Bandung.

(Ade Sudaryat)

Dikutip dari www.jugaguru.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: